Oleh M. Ali
LAZIS Area Pondok Kopi
Aku
berlari... mengejar...
Ku
pegang...
Namun
akhirnya usang...
Ku
gapai...
Tapi
akhirnya tua dan mati...
Aku
berlari... menerkam...
Ku
gengam...
Kemudian
diperebutkan keturunan
Aku berlari... mencari...
Ku
dapat...
Akhirnya
keluar jadi ’kotoran’
Bukan,
bukan ini yang ku mau...
Bukan
yang kupegang, tapi jadi usang...
Bukan,
bukan ini yang ku maksud...
Bukan
yang kugapai, namun jadi tua dan akhirnya mati
Juga
bukan, bukan ini yang ku harapkan...
Bukan
yang kugenggam, tapi akhirnya jadi rebutan anak cucuku
Dan
bukan, bukan ini yang ku inginkan...
Bukan
yang kuambil, lalu jadi ’kotoran’
Aku
tidak mau yang seperti itu
Aku
mau yang ada selamanya
Aku
ingin yang hidup seterusnya
Aku
harap yang abadi
Aku
mau Engkau, ya Allah...
Aku
ingin Engkau, ya Rabbi...
Tidak
mau yang lain...
Hanya
cinta-Mu...
Cinta-Mu...
Karena
dengan cinta-Mu
Terpancar
ribuan cinta tuk segenap alam
(Bogor,
10 Desember 2011)
Saudaraku,
memburu berarti berlari dan mengejar, menangkap dan menerkam,
tidak ada kata-kata diantara keduanya, berdiam diri atau berlehaleha. Jika
banyak diantara kita yang rela bersusah payah untuk memburu sesuatu
yang tidak abadi, maka lebih layak bahkan wajib bagi kita untuk memburu
sesuatu yang abadi, yang tidak lapuk ditelan waktu, dan tidak akan mati
diterkam jaman. Dan disini kita sedang memburu sesuatu yang abadi itu, yaitu
cinta Allah.
Saudaraku,
cinta abadi adalah cinta Ilahi, cinta Allah SWT. Di sanalah segala
cinta yang lurus berpusat dan mengorbit sepanjang masa. Maka orang yang
mau memburu cinta abadi itu adalah orang-orang yang mau berpeluh keringat,
bahkan darah dan nyawa untuk mendapatkan cinta-Nya. Menjadi
seorang Mukmin yang rindu akan cinta Allah, sabar menjalani perintah-Nya,
tegar menjauhi larangan-Nya adalah salah satu pilihan terhormat.
Di sana ada inspirasi cinta, di sana pula kita layak melabuhkan cinta.
Orang-orang
yang memburu cinta Rabb-Nya akan memancarkan cinta pula bagi
sesama. Mereka orang-orang yang layak dicintai, sebab cinta mereka kepada
Allah SWT akan memantulkan manfaat sosial bagi sesama manusia. Inilah
filosofi cinta pada pengejewantahan ‘rahmatan lil ‘alamin’ yang dijelaskan
Allah SWT. Maka, derajat cinta tertinggi dalam Islam adalah cinta kepada
Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada cinta yang melebihinya. “Tidaklah beriman salah seorang diantara kalian
sampai ia lebih
mencintai Allah dan
Rasul-Nya atas selain kedua-Nya”. (Muttafaq ‘alaih)
Saudaraku,
cinta yang tulus dan abadi itu akan mendorong seseorang mukmin
untuk beramal shalih. Bahkan di sanalah kenikmatan hidupnya, pada kelelahan
dan kepayahan beramal itu. Setiap kali kedekatan dan cinta seorang hamba
kepada Allah SWT bertambah, maka bertambah pula cinta Allah SWT kepadanya.
Dalam Hadits Qudsi Rasulullah bersabda, bahwa Allah berkata :
“Kalau Allah SWT mencintai seorang hamba, maka
Ia memanggil Jibril, ‘wahai Jibril !
Aku mencintai si fulan, maka cintailah dia.’ Lalu Jibril memanggil
penghuni langit, ‘wahai penghuni langit ! Sesungguhnya Allah
mencintai si fulan, maka cintailah dia.’ Lalu penghuni bumipun
mencintainya.”
Saudaraku,
contoh dari sosok orang yang Allah dan penghuni langit serta penghuni
bumipun mencintainya dapat kita lihat pada diri Rasulullah SAW, para
Sahabat dan orang-orang Sholih terdahulu. Merekalah para pemburu cinta
abadi yang sejati. Teringat kita akan sejarah kegemilangan ‘Umar bin Abdul
Aziz, sang Khalifah kelima menjadi saksi atas perjalanan seorang pemburu
cinta abadi yang sejati.
Saudaraku,
Malik bin Dinar berkisah. Ketika ‘Umar bin Abdul Aziz diangkat
sebagai Khalifah, para penggembala kambing di puncak gunung berkata,
“siapakah khalifah shalih yang sedang memerintah manusia saat ini?” para
penggembala itu tidak tahu menahu peristiwa di kota, termasuk diangkatnya
‘Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah. Ketika hal itu ditanyakan kepada
mereka, para penggembala itu menjelaskan, ‘bila pemerintahan dipegang
oleh seorang khalifah yang shalih, serigala dan singa tidak mengganggu
kambing-kambing kami. Duhai
khalifah yang mulia, sampai binatangpun mencintaimu, keberkahan
macam apa yang kaum muslimin rasakan di masamu. Maka tak heran
ketika kau wafat, salah satu musuh terbesarmu, yaitu kaisar Romawi tak merelakan
kepergianmu. Subhanallah, itulah buah dari memburu cinta Allah SWT.
Saudaraku,
diriwayatkan bahwa pada hari kedua setelah pengangkatan dirinya
menjadi khalifah, beliau menyampaikan khutbah umum. Di ujung khutbahnya,
beliau berkata “wahai manusia, tiada nabi selepas Muhammad SAW
dan tidak ada kitab selepas Alqur’an, aku bukan penentu hukum tapi aku pelaksana
hukum Allah, aku bukan ahli bid’ah malah aku orang yang mengikuti sunnah,
aku bukan orang yang paling baik di kalangan kamu sedangkan aku cuma
orang yang paling berat tanggungannya dikalangan kamu, aku mengucapkan
ucapan ini sedangkan aku tahu aku adalah orang yang paling banyak
dosa di sisi Allah SWT”, kemudian beliau duduk dan menangis, ‘alangkah
besar ujian Allah kepadaku’, sambung ‘Umar bin Abdul Aziz. Beliau
pulang ke rumah dan menangis sehingga ditegur isterinya “apa yang
Amirul Mukminin tangiskan?” beliau menjawab “wahai istriku, aku telah di
uji oleh Allah dengan jabatan ini dan sedang teringat kepada orang-orang yang
miskin, ibu-ibu yang janda, anaknya ramai, rezekinya sedikit, aku teringat orang-orang
dalam tawanan, para fuqara’ kaum muslimin. Aku tahu mereka semua
akan mendakwaku di akhirat kelak dan aku bimbang aku tidak dapat menjawab
hujah-hujah mereka sebagai khalifah, karena aku tahu yang menjadi
pembela di pihak mereka adalah Rasulullah SAW. Mendengar
penuturannya,
isterinya juga turut mengalir air matanya.
Saudaraku,
perburuan terhadap cinta Allah tidak bisa hanya melalui mimpi
atau angan-angan. Mencapai cinta Allah, tidak mungkin ditempuh hanya bermodal
khayalan. Bertemu Allah, tidak akan dapat terwujud hanya lewat keinginan
dan niat. Untuk meraih cinta-Nya, kita harus berburu, berburu dengan
bergerak, bekerja, dan berlomba. Lebih dari itu, berlari. “Maka berlarilah kalian kepada Allah.” (QS.
Adz-Dzariat : 50)
Berlomba
dan berlari. Bukan berjalan, apalagi dengan duduk dan diam. Ingatlah
! bahwa ada batas waktu pendek yang tersedia di hadapan kita. Sangat
boleh jadi kita tak sempat mencapai kecintaan Allah seperti yang kita inginkan,
karena waktu pendek yang tidak kita gunakan dengan baik. Maka sudahkah
kita mempersiapkan perburuan kita hari ini ?.
Dunia
semakin dikejar semakin membuat penasaran, dan semakin membuat kita lupa akan
dekatnya kematian.