13 September 2013

Aku Berlari...!!!



Oleh M. Ali
LAZIS Area Pondok Kopi

Aku berlari... mengejar...

Ku pegang...

Namun akhirnya usang...

Aku berlari... memburu...
Ku gapai...

Tapi akhirnya tua dan mati...
Aku berlari... menerkam...

Ku gengam...

Kemudian diperebutkan keturunan

Aku berlari... mencari...

Ku dapat...


Akhirnya keluar jadi ’kotoran’
Bukan, bukan ini yang ku mau...

Bukan yang kupegang, tapi jadi usang...

Bukan, bukan ini yang ku maksud...


Bukan yang kugapai, namun jadi tua dan akhirnya mati

Juga bukan, bukan ini yang ku harapkan...

Bukan yang kugenggam, tapi akhirnya jadi rebutan anak cucuku

Dan bukan, bukan ini yang ku inginkan...


Bukan yang kuambil, lalu jadi ’kotoran’

Aku tidak mau yang seperti itu

Aku mau yang ada selamanya

Aku ingin yang hidup seterusnya

Aku harap yang abadi

Aku mau Engkau, ya Allah...

Aku ingin Engkau, ya Rabbi...

Tidak mau yang lain...

Hanya cinta-Mu...

Cinta-Mu...

Karena dengan cinta-Mu

Terpancar ribuan cinta tuk segenap alam


(Bogor, 10 Desember 2011)


Saudaraku, memburu berarti berlari dan mengejar, menangkap dan menerkam, tidak ada kata-kata diantara keduanya, berdiam diri atau berlehaleha. Jika banyak diantara kita yang rela bersusah payah untuk memburu sesuatu yang tidak abadi, maka lebih layak bahkan wajib bagi kita untuk memburu sesuatu yang abadi, yang tidak lapuk ditelan waktu, dan tidak akan mati diterkam jaman. Dan disini kita sedang memburu sesuatu yang abadi itu, yaitu cinta Allah.


Saudaraku, cinta abadi adalah cinta Ilahi, cinta Allah SWT. Di sanalah segala cinta yang lurus berpusat dan mengorbit sepanjang masa. Maka orang yang mau memburu cinta abadi itu adalah orang-orang yang mau berpeluh keringat, bahkan darah dan nyawa untuk mendapatkan cinta-Nya. Menjadi seorang Mukmin yang rindu akan cinta Allah, sabar menjalani perintah-Nya, tegar menjauhi larangan-Nya adalah salah satu pilihan terhormat. Di sana ada inspirasi cinta, di sana pula kita layak melabuhkan cinta.


Orang-orang yang memburu cinta Rabb-Nya akan memancarkan cinta pula bagi sesama. Mereka orang-orang yang layak dicintai, sebab cinta mereka kepada Allah SWT akan memantulkan manfaat sosial bagi sesama manusia. Inilah filosofi cinta pada pengejewantahan ‘rahmatan lil ‘alamin’ yang dijelaskan Allah SWT. Maka, derajat cinta tertinggi dalam Islam adalah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada cinta yang melebihinya. “Tidaklah beriman salah seorang diantara kalian sampai ia lebih


mencintai Allah dan Rasul-Nya atas selain kedua-Nya”. (Muttafaq ‘alaih)

Saudaraku, cinta yang tulus dan abadi itu akan mendorong seseorang mukmin untuk beramal shalih. Bahkan di sanalah kenikmatan hidupnya, pada kelelahan dan kepayahan beramal itu. Setiap kali kedekatan dan cinta seorang hamba kepada Allah SWT bertambah, maka bertambah pula cinta Allah SWT kepadanya. Dalam Hadits Qudsi Rasulullah bersabda, bahwa Allah berkata :
Kalau Allah SWT mencintai seorang hamba, maka Ia memanggil Jibril, ‘wahai Jibril ! Aku mencintai si fulan, maka cintailah dia.’ Lalu Jibril memanggil penghuni langit, ‘wahai penghuni langit ! Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia.’ Lalu penghuni bumipun mencintainya.”
Saudaraku, contoh dari sosok orang yang Allah dan penghuni langit serta penghuni bumipun mencintainya dapat kita lihat pada diri Rasulullah SAW, para Sahabat dan orang-orang Sholih terdahulu. Merekalah para pemburu cinta abadi yang sejati. Teringat kita akan sejarah kegemilangan ‘Umar bin Abdul Aziz, sang Khalifah kelima menjadi saksi atas perjalanan seorang pemburu cinta abadi yang sejati.


Saudaraku, Malik bin Dinar berkisah. Ketika ‘Umar bin Abdul Aziz diangkat sebagai Khalifah, para penggembala kambing di puncak gunung berkata, “siapakah khalifah shalih yang sedang memerintah manusia saat ini?” para penggembala itu tidak tahu menahu peristiwa di kota, termasuk diangkatnya ‘Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah. Ketika hal itu ditanyakan kepada mereka, para penggembala itu menjelaskan, ‘bila pemerintahan dipegang oleh seorang khalifah yang shalih, serigala dan singa tidak mengganggu kambing-kambing kami. Duhai khalifah yang mulia, sampai binatangpun mencintaimu, keberkahan macam apa yang kaum muslimin rasakan di masamu. Maka tak heran ketika kau wafat, salah satu musuh terbesarmu, yaitu kaisar Romawi tak merelakan kepergianmu. Subhanallah, itulah buah dari memburu cinta Allah SWT.


Saudaraku, diriwayatkan bahwa pada hari kedua setelah pengangkatan dirinya menjadi khalifah, beliau menyampaikan khutbah umum. Di ujung khutbahnya, beliau berkata “wahai manusia, tiada nabi selepas Muhammad SAW dan tidak ada kitab selepas Alqur’an, aku bukan penentu hukum tapi aku pelaksana hukum Allah, aku bukan ahli bid’ah malah aku orang yang mengikuti sunnah, aku bukan orang yang paling baik di kalangan kamu sedangkan aku cuma orang yang paling berat tanggungannya dikalangan kamu, aku mengucapkan ucapan ini sedangkan aku tahu aku adalah orang yang paling banyak dosa di sisi Allah SWT”, kemudian beliau duduk dan menangis, ‘alangkah besar ujian Allah kepadaku’, sambung ‘Umar bin Abdul Aziz. Beliau pulang ke rumah dan menangis sehingga ditegur isterinya “apa yang Amirul Mukminin tangiskan?” beliau menjawab “wahai istriku, aku telah di uji oleh Allah dengan jabatan ini dan sedang teringat kepada orang-orang yang miskin, ibu-ibu yang janda, anaknya ramai, rezekinya sedikit, aku teringat orang-orang dalam tawanan, para fuqara’ kaum muslimin. Aku tahu mereka semua akan mendakwaku di akhirat kelak dan aku bimbang aku tidak dapat menjawab hujah-hujah mereka sebagai khalifah, karena aku tahu yang menjadi pembela di pihak mereka adalah Rasulullah SAW. Mendengar

penuturannya, isterinya juga turut mengalir air matanya.
Saudaraku, perburuan terhadap cinta Allah tidak bisa hanya melalui mimpi atau angan-angan. Mencapai cinta Allah, tidak mungkin ditempuh hanya bermodal khayalan. Bertemu Allah, tidak akan dapat terwujud hanya lewat keinginan dan niat. Untuk meraih cinta-Nya, kita harus berburu, berburu dengan bergerak, bekerja, dan berlomba. Lebih dari itu, berlari. “Maka berlarilah kalian kepada Allah.” (QS. Adz-Dzariat : 50)

Berlomba dan berlari. Bukan berjalan, apalagi dengan duduk dan diam. Ingatlah ! bahwa ada batas waktu pendek yang tersedia di hadapan kita. Sangat boleh jadi kita tak sempat mencapai kecintaan Allah seperti yang kita inginkan, karena waktu pendek yang tidak kita gunakan dengan baik. Maka sudahkah kita mempersiapkan perburuan kita hari ini ?.
Dunia semakin dikejar semakin membuat penasaran, dan semakin membuat kita lupa akan dekatnya kematian.